Flow Assurance merupakan nomenklatur dalam
industri migas yang dapat diartikan sebagai jaminan berhasilnya hidrokarbon
(migas) mengalir dari reservoir sampai ke titik penjualan secara ekonomis. Nomenklatur
Flow Assurance sendiri pertama kali digunakan oleh Petrobras pada awal tahun
1990 di Portugal sebagai “Garantia do
Escomento”, diartikan sebagai Guarantee
of Flow atau Flow Assurance. Sebagaimana
diketahui bahwa Produksi Migas merupakan rangkaian proses yang komplek dengan
fasilitas yang sangat bervariasi karena berbagai faktor yang mempengaruhinya. Keberhasilan
pengoperasian sistem produksi migas (multiphase)
sangat ditentukan oleh kemampuan untuk menentukan parameter desain dan
persoalan untuk seluruh sistem, mulai dari reservoir ke proses pemisahan, treatment, penampungan hingga ke
fasilitas pengiriman (Gambar 1). Untuk memastikan bahwa seluruh sistem yang
didesain untuk dapat beroperasi dengan baik dan ekonomis, perancang sistem
harus mempertimbangkan dasar-dasar flow
assurance seperti karakteristik reservoir, profil produksi, sifat kimia
fluida produksi, dan kondisi lingkungan seperti kondisi peralatan, operasional,
risiko, dan isu-isu ekonomis yang melingkupi seluruh bagian dari sistem produksi migas.
Dapat
dikatakan Flow Assurance diaplikasikan disemua tahapan mulai dari pemilihan
sistem, desain detail, detailed design, pengawasan, troubleshooting
masalah-masalah operasi, fase produksi, EOR sampai ke sistem fasilitas produksi
(well tubing, subsea equipment, flowlines,
initial processing dan export lines).
Parameter-parameter
penting sistem yang baik merupakan bagian dari upaya desain meliputi diameter tubing
dan flowline, isolasi (tubing, x-mastree, jumper, manifold, flowlines dan riser),
kebutuhan injeksi bahan kimia, ketentuan penutupan/pengalihan aliran, kebutuhan
kapasitas Host, batas-batas operasi
(misalnya maksimum dan minimum laju produksi), modal dan biaya operasi hingga
perkiraan risiko. Semua mode produksi termasuk startup, normal operasi (steady
state), perubahan laju produksi (rate), dan shutdown harus diperhatikan dalam seluruh
sistem siklus hidup produksi migas.
Flow
Assurance meliputi desain termal-hidrolik dan penilaian sistem produksi fluida/ transportasi serta prediksi, pencegahan,
dan penghambat aliran
karena pengendapan padatan (terutama
karena hidrat dan
wax). Dalam semua kasus, desain flow assurance
harus mempertimbangkan
kemampuan dan kebutuhan untuk semua
bagian dari sistem selama rentang
waktu produksi untuk mendapatkan
keberhasilan.
Filosofi yang kuat mengenai operasi, strategi, dan prosedur untuk desain sistem yang sukses harus kuat, karena harus dibangun dengan kemampuan untuk bisa diadaptasikan dengan ketidakpastian dan harus mudah disesuaikan dengan sistem yang mungkin baru akan digunakan setelah produksi berjalan, bahkan ketika sistem baru tersebut berbeda dari apa yang diasumsikan selama desain (hal ini yang sering terjadi).
Filosofi yang kuat mengenai operasi, strategi, dan prosedur untuk desain sistem yang sukses harus kuat, karena harus dibangun dengan kemampuan untuk bisa diadaptasikan dengan ketidakpastian dan harus mudah disesuaikan dengan sistem yang mungkin baru akan digunakan setelah produksi berjalan, bahkan ketika sistem baru tersebut berbeda dari apa yang diasumsikan selama desain (hal ini yang sering terjadi).
Desain
sistem adalah sebuah sintesa dari Flow
Assurance dan Operability features
yang dilengkapi dengan aspek-aspek lain di dalam sistem. Untuk kondisi offshore
di dalamnya termasuk reservoir, model komplesi, fasilitas subsea, Sistem
kontrol, pipeline, fasilitas proses dan utilitas, transportasi, faktor
keekonomian dan lain-lain. Operability
adalah kemampuan untuk menjaga peralatan,
sistem atau instalasi industri secara keseluruhan dalam kondisi berfungsi aman dan terpercaya, sesuai
dengan kebutuhan operasional yang
telah ditetapkan. Dengan demikian kesuksesan dalam desain flow assurance akan mewakili sebuah solusi
dari sistem yang paling memenuhi kebutuhan seluruh bagian dari sistem produksi
(Gambar 2).
Gambar
2. Contoh bagian-bagian dari Desain Sistem Produksi
Sistem Subsea Production
Sistem Subsea production sebagai contoh dapat
berupa single satellite well (sistem
sumur tunggal) dengan sebuah flowline
dihubungkan ke sebuah fixed platform,
FPSO atau sebuah instalasi di darat, atau dapat berupa subsea process yang
kompleks dan beberapa sumur pada sebuah template
atau cluster disekitar manifold, dan dialirkan ke sebuah fixed plaform atau fasilitas terapung
atau langsung dikirim ke instalasi di darat.
Pengembangan
lapangan minyak dan gas bawah laut memerlukan peralatan khusus. Peralatan harus
handal untuk menjaga kelestarian lingkungan, dan membuat eksploitasi
hidrokarbon bawah laut ekonomis. Pengerahan peralatan tersebut membutuhkan
kapal khusus dan mahal, yang perlu dilengkapi dengan peralatan menyelam untuk
pekerjaan yang relatif dangkal (yaitu beberapa ratus kaki kedalaman air), dan
peralatan robot untuk kedalaman air yang lebih dalam. Persyaratan untuk
memperbaiki atau melakukan intervensi dengan peralatan subsea terpasang sedemikian
rupa biayanya sangat mahal. Jenis beban ini dapat mengakibatkan non-efisiensi
pembangunan fasilitas subsea dari
segi keekonomian.
Gambar 3. Contoh Skema Sistem Subsea
Motivasi utama untuk pengembangan lapangan minyak/gas adalah mendapatkan
recovery minyak/gas sebesar-besarnya dari reservoir. Parameter utama yang dapat
mengurangi produksi adalah pressure drop (kehilangan tekanan) antara reservoir
hingga ke fasilitas penampung/penerima. Oleh sebab itu usaha untuk mengurangi
terjadinya pressure drop sebisa mungkin dilakukan.
Spesialis flow assurance harus dapat mendesain sistem
multifasa dengan menggunakan peralatan, metoda, pengetahuan dan kemampuan
profesional, untuk menjamin keamanan, kelangsungan produksi fluida dari
reservoir sampai ke fasilitas proses.
Pada permulaan produksi mengalirnya gas atau
minyak ke permukaan disebabkan oleh tekanan reservoir. Ketika pressure drop di
antara reservoir dan fasilitas penerima menjadi sangat besar, sumur-sumur akan
berhenti berproduksi dan aliran di dalam pipa akan berhenti.
Berproduksinya
sumur adalah proses dinamis dimana produksi migas akan diikuti dengan terproduksinya air dari dalam sumur yang
meningkat secara kontinyu. Sumur akan dihentikan produksinya ketika biaya untuk
menangani air terproduksi lebih besar dari nilai keekonomian gas atau minyak
yang diproduksi.
Selama masa
produksi reservoir akan terkuras secara bertahap dan tekanan resevoir akan turun. Gradien tekanan
dari kepala sumur ke fasilitas penampungan akan menentukan laju produksi.
Sehingga penting untuk meminimalisir terjadinya pressure drop antara kepala
sumur sampai ke fasilitas proses/penampung.
Pada aliran
multifasa terjadi pressure drop
dipengaruhi oleh banyak parameter. semua parameter tersebut perlu untuk
dievaluasi dan dihitung pada semua bagian dari sistem produksi. Berikut adalah
Parameter-parameter yang mempengaruhi terjadinya pressure drop pada sistem
produksi multi fasa.
a. Fluida
Pada
aliran multifasa, fase fluida akan bervariasi di berbagai bagian dari sistem
produksi sesuai dengan temperatur, tekanan dan laju alir. Densitas adalah satu
dari parameter yang mempengaruhi pressure drop, dan fluida yang fasa cairnya lebih
besar akan semakin besar pressure dropnya
dibandingkan fluida yang fas gasnya lebih besar. Artinya bahwa jika
sumur mulai memproduksikan air selain minyak/gas pressure drop akan meningkat
sehingga laju produksi menurun.
b. Panjang
Flowline
Di
banyak lapangan jarak dari lapangan subsea sampai ke darat/pantai menjadi
parameter penting. Penentuan pemisahan fasa fluida dan penambahan tekanan
dengan pompa dan kompressor harus dievaluasi untuk melihat apakah dibutuhkan
untuk mendapatkan tekanan yang cukup di dalam sistem.
c. Velocity
Peningkatan
kecepatan akan menaikkan kehilangan tekanan (pressure drop).
d. Densitas
Densitas
pada aliran multifasa merupakan fungsi dari laju alir tiga fasa, temperatur dan
tekanan.
e. Friksi
di dalam pipa
For
long flowlines the contribution from the friction between flow and fluid is the
most dominant parameter that causes pressure drop (see exercises).
Untuk
pipa yang panjang, kontribusi dari friksi (gesekan) antara fluida dengan
dinding pipa adalah parameter yang cukup berpengaruh menjadi penyebab
kehilangan tekanan.
f.
Gravity
forces
Berat dari kolom fluida multifasa menjadi
sangat berpengaruh pada pipa vertikal (termasuk tubing), pipa yang panjang dan
riser.
g. Valves dan bends
Valve dan bend memberikan kontribusi yang
besar dalam kehilangan tekanan pada sistem pemipaan.
Potensi
Hambatan pada Flow Assurance
Dalam penyaluran fluida produksi dari sumur
produksi melalui sistem perpipaan di lapangan lepas pantai akan ditemukan
berbagai hambatan yang terjadi akibat sifat fisik fluida yang mengalir di dalam
pipa maupun akibat kondisi lingkungan.
Gambar 4. Ilustrasi
Persoalan yang mempengaruhi Flow Assurance
(sumber: FMC Subsea technologies)
Potensi masalah yang terjadi antara lain:
a. Slugging
Pada
aliran multifasa sering terjadi aliran dengan model slugging yaitu fasa gas
mengalir secara bergantian dengan fasa liquid. Hal ini akan mengurangi
efiseiensi dalam pengaliran dan menyulitkan penanganan aliran di bagian down stream.
Gambar 5. Pola Aliran
Slug
Slugging
terjadi selain karena sifat fisik fluida dan kondisi tekanan dan temperatur
juga terjadi karena beberapa hal seperti di bawah ini:
i)
Terrain
slugging disebabkan oleh kemiringan dari pipa, yang mengikuti elevasi tanah
atau dasar laut. Cairan dapat terakumulasi pada titik rendah pipa sampai
tekanan yang cukup besar dibelakang akumulasi cairan. Setelah cairan didorong
keluar dari titik rendah, hal ini yang membentuk aliran slug.
ii)
Hidrodinamik
slugging disebabkan oleh fasa gas yang mengalir lebih cepat daripada fasa
cair. Gas akan membentuk gelombang di permukaan cairan, yang dapat berkembang
keseluruh penampang pipa. Hal ini menciptakan penyumbatan di aliran gas, yang
bergerak sebagai slug melalui pipa.
iii)
Riser-based
slugging, dikaitkan dengan riser yang sering digunakan di fasilitas
produksi minyak lepas pantai. Cairan menumpuk di bagian bawah riser sampai
tekanan yang cukup untuk mengangkat cairan ke atas riser, di belakang slug cairan
akan terbentuk pula slug gas, sampai cairan yang cukup telah terakumulasi kembali
di bagian bawah riser membentuk slug cairan baru.
b. Hidrat
Hidrat
terbentuk oleh ikatan antara molekul gas dengan hidrogen yang ada pada molekul
air dan membentuk kristal/padatan yang terjadi pada suhu di atas titik beku air.
Hidrat dapat terbentuk ketika terdapat gas, air bebas, tekanan tinggi dan suhu yang
rendah. Kejadian ini sangat mungkin untuk terjadi pada gas yang mengalir
bersama dengan air formasi dari sumur-sumur di lapangan migas lepas pantai.
Gambar 6. Hidrat yang terbentuk pada pipa
c. Pengendapan
Wax
Crude
oil merupakan campuran hidrokarbon yang kompleks, terdiri dari aromatik,
parafin, nafta, resin, aspal, merkaptan, dan lain-lain. Ketika temperatur crude
oil berkurang, komponen-komponen berat seperti parafin/wax (C18 –
C60) akan terpresipitasi dan mengendap pada dinding pipa. Diameter internal
pipa akan berkurang dengan adanya pengendapan wax, menghasilkan pressure
drop yang lebih tinggi. Pengendapan wax dapat menyebabkan pipa
tersumbat seluruhnya. Kelarutan wax dalam aromatik dan nafta rendah,
dan semakin rendah pada temperatur rendah. Sangat mudah bagi wax
terpresipitasi pada temperatur rendah. Temperatur tertinggi di mana wax
mulai terpresipitasi disebut crude cloud point (atau disebut juga wax
appearance temperature). Ketika crude oil didinginkan hingga
temperaturnya di bawah crude cold point, parafin atau wax akan
terpresipitasi. Wax akan mengendap pada dinding pipa dalam bentuk gel wax-minyak.
Gel terdiri dari kristal wax beserta sejumlah minyak yang terjebak di
dalamnya. Ketika temperatur makin rendah, lebih banyak lagi wax yang
terpresipitasi dan ketebalan gel meningkat, sehingga minyak akan berhenti
mengalir. Temperatur di mana sampel minyak berhenti mengalir disebut crude
pour point (Guo, 2005). Pada pipa bawah laut, temperatur air laut dapat
berada di bawah pour point, sehingga akan terbentuk gel wax
setelah shutdown yang cukup lama.
Gambar 7. Deposisi Wax dari dalam pipa
(sumber: http://www.hydrafact.com)
d.
Pengendapan
Aspal
Aspal
didefinisikan sebagai senyawa minyak yang tidak larut dalam n-pentana atau
n-heksana, tetapi larut dalam toluena atau benzena. Oleh karena itu, aspal akan
terpresipitasi ketika n-pentana atau n-heksana berlebih ditambahkan ke dalam crude
oil. Padatan aspal berwarna coklat gelap atau hitam. Tidak seperti wax,
aspal tidak meleleh. Tetapi, seperti halnya wax, dengan perubahan
tekanan, temperatur, dan komposisi, aspal cenderung terflokulasi dan mengendap
di dalam formasi reservoir, tubing sumur, dan perpipaan (flowlline).
Pencampuran fluida reservoir dengan gas yang berbeda (injected gas atau gas-lift
gas) atau pencampuran dua aliran minyak dapat menyebabkan presipitasi
aspal.
Kelarutan
aspal dalam crude oil merupakan parameter kunci untuk menentukan apakah
aspal dapat menimbulkan masalah atau tidak. Jika aspal selalu berada dalam
keadaan tidak-jenuh, aspal stabil, dan tidak terjadi presipitasi. Sebaliknya,
presipitasi aspal akan terjadi jika berada dalam keadaan lewat-jenuh. Kelarutan
aspal dalam crude oil dapat berubah dari tidak-jenuh menjadi lewat-jenuh
jika tekanan, temperatur, dan komposisi berubah. Selama produksi, perubahan
temperatur dan tekanan di antara reservoir dan flowline cukup
signifikan. Komposisi fluida juga dapat berubah selama produksi : gas dapat
terpisah dari crude oil ketika tekanan crude oil berada di bawah bubble
point, atau gas-lift gas diinjeksikan ke dalam aliran minyak. Dengan
demikian, presipitasi aspal merupakan masalah potensial selama produksi dan
transportasi.
e. Scale
Scale atau kerak juga merupakan potensi masalah yang mungkin
terjadi. Jika wax dan aspal terpresipitasi hidrokarbon maka scale dari air
formasi. Scale dapat menyebabkan masalah
serius dengan menyumbat fasilitas produksi, control valve, dan
menghambat aliran fluida dalam tubing dan pipa. Scale juga dapat
terbentuk di dalam formasi dan mereduksi produktivitas dengan menyumbat
formasi. Scale yang sering terdapat dalam industri minyak adalah kalsium
karbonat, barium sulfat, strontium sulfat, dan kalsium sulfat.
Penyebab
utama kerak karbonat terbentuk dalam wellbore adalah pressure drop
di dalam tubing dan tingginya temperatur downhole. Sedangkan
penyebab utama terbentuknya kerak sulfat adalah pencampuran air : air dari field
berbeda, dari sumur yang berbeda di field yang sama, dari perbedaan
lateral di sumur yang sama, dan pencampuran air formasi dengan air laut.
f.
Korosi
Korosi
menjadi masalah bagi pipa yang mengalirkan gas, minyak, dan air. Air dapat
membasahi permukaan dalam pipa dan korosi dapat berlangsung. Korosivitas
bergantung pada konsentrasi CO2 dan H2S, temperatur,
tekanan, pola aliran, dan laju alir fluida. Pada pipa bawah laut, korosi dapat
terjadi dalam berbagai bentuk, yaitu galvanic
corrosion, pitting, cavitation, stress corrosion cracking, hydrogen embrittlement,
corrosion fatigue, dan lain-lain. Fenomena korosi pada aliran multifasa
(gas, minyak, dan air) sangat kompleks, mencakup sifat kimia fluida, metalurgi
material pipa, dan hidrolika aliran multifasa.
B.Penanganan
Hambatan dalam Flow Assurance
Potensi masalah dalam flow assurance yang
dibahas di atas memerlukan penanganan serius. Berikut akan dibahas mengenai
penanganan masalah yang mempengaruhi flow assurance.
a. Penanganan Slugging
Beberapa cara dapat
dilakukan untuk meminimalkan slugging yang terjadi di dalam pipa. Penanganan
slugging dapat dilakukan dengan beberapa cara yang dapat dilakukan ditahap
desain maupun setelah operasi produksi berlangsung.
i)
Desain geometri pipa
dan iklinasi
Desain geometri pipa
(panjang, diameter) juga menentukan mudah tidaknya slug terbentuk. Geometri
pipa harus disesuaikan dengan kecepatan alir fluida yang akan ditransport.
Inklinasi atau kemiringan pipa punya kontribusi yang besar terhadap
terbentuknya slug. Semakin besar sudut inklinasi maka potensi terbentuknya slug
semakin besar, sehingga pada saat desain jaringan pipa perlu diminimalisir
posisi pipa membentuk sudut iklinasi yang besar
ii)
Meningkatkan aliran gas
Salah satu
alasan utama terjadinya slugging
adalah kecepatan gas terlalu rendah untuk membawa liquid keluar dari pipa
Jika jumlah gas yang masuk ke dalam pipa banyak, kecepatan gas akan meningkat
dan gas akan mengangkat/mendorong liquid
keluar dari riser dengan
mereduksi densitas campuran fluida. Untuk melihat berapa kecepatan aliran yang
dapat meminimalisir terbentuknya slugging maka dapat dilihat peta pola aliran
dari fluida multifasa seperti pada gambar 8.
Gambar 8.
Peta Pola Aliran Multifasa
iii)
Gas-Lift Riser
Jika gas dalam jumlah yang cukup diinjeksikan ke dasar
riser untuk mengubah aliran di
dalam riser menjadi aliran slug, wavy atau anular yang hidrodinamis, masalah severe slugging dapat diatasi. Pada
aliran slug atau churn yang hidrodinamis, slug lebih pendek dibandingkan slug pada aliran severe slugging. Separator di
fasilitas pemroses biasanya didesain untuk menangani aliran slug hidrodinamis, sehingga tidak
perlu shutdown. Jika gas
diinjeksi ke dasar riser untuk
mengubah aliran menjadi aliran anular, aliran akan stabil. Tetapi untuk
mencapai aliran anular, jumlah gas yang diperlukan sangat banyak dan
kemungkinan tidak praktis.
iv)
Topsides Choking
Severe slugging yang terjadi di
riser atau sesction vertikal dari pipa dapat diatasi dengan men-choking aliran pada bagian atas riser. Choking aliran dapat meningkatkan tekanan sistem dan membuat
sistem lebih “kencang”. Ketika liquid
slug yang terbentuk di dasar riser
mengeblok aliran gas, tekanan gas di belakang liquid slug meningkat dengan cepat dan dapat mendorong liquid slug keluar dari riser dengan cepat. Dengan cara ini,
waktu akumulasi liquid menjadi
lebih singkat dan liquid slug
menjadi lebih lebih kecil sehingga severe slug dapat diminimasi.
b.
Mitigasi dan Penanganan Hidrat
Gambar 9 menunjukka kurva pembentukan hidrat. Sebelah
kiri kurva merupakan daerah pembentukan hidrat. Ketika tekanan dan temperatur
berada di daerah ini, air dan gas mulai membentuk hidrat. Sebelah kanan kurva
bukan merupakan daerah pembentukan hidrat gas. Ketika tekanan dan temperatur
berada di daerah ini, air dan gas tidak akan membentuk hidrat. Komposisi
fluida, komposisi air, dan salinitas air mempengaruhi kurva hidrat.
Gambar 9. Kurva Pembentukan Hidrat
i)
Insulasi termal
Berdasarkan kurva pembentukan hidrat, diketahui bahwa
sepanjang temperatur fluida di atas temperatur pembentukan hidrat, tidak ada
hidrat yang akan terbentuk. Dengan demikian, langkah yang sangat baik untuk
mitigasi hidrat adalah dengan menjaga temperatur fluida di dalam pipa agar
berada di atas temperatur pembentukan hidrat. Walaupun demikian, pada pipa
bawah laut, temperatur air biasanya sangat rendah dan dapat berada di bawah 40oF
bergantung pada kedalaman air. Pipa baja bukan merupakan insulator termal yang
baik. Oleh karena itu, diperlukan insulasi termal di sekeliling pipa untuk
mencegah panas lepas ke lingkungan.
ii)
Penggunaan Inhibitor
Inhibitor
yang sering digunakan adalah metanol dan monoetilen glikol (MEG). Pada
pengaliran minyak inhibitor biasanya digunakan setelah shutdown atau
selama re-startup; tidak digunakan kontinu. Sedangkan pada pengaliran
gas inhibitor digunakan kontinu karena pipa gas biasanya tidak diisolasi.
iii)
Pemanasan dengan Listrik
Saat ini
penelitian banyak dilakukan untuk mengetahui mitigasi hidrat menggunakan
pemanasan dengan listrik. Pemanasan dengan listrik dibagi menjadi dua kategori,
yaitu langsung dan tidak langsung. Pada pemanasan langsung, listrik mengalir
secara aksial melalui dinding pipa dan memanaskan aliran fluida secara
langsung. Pada pemanasan tidak langsung, listrik mengalir melalui elemen
pemanas pada permukaan pipa, dan aliran fluida dipanaskan dengan konduksi
termal.
Pemanasan
dengan listrik dapat digunakan sebagai metode mitigasi hidrat.
Setelah shutdown, pemanasan dengan listrik digunakan untuk menjaga
temperatur fluida di dalam pipa agar berada di atas temperatur pembentukan
hidrat sehingga hidrat tidak terbentuk. Pemanasan dengan listrik juga dapat
digunakan untuk remediasi. Hidrat yang terbentuk dapat dilelehkan
dengan pemanasan dari listrik. Pelelehan hidrat dengan pemanasan dari listrik
lebih cepat dibandingkan dengan pengurangan tekanan pipa (depressurization).
iv)
Sirkulasi Hot Oil
Sirkulasi hot
oil merupakan cara yang populer untuk mitigasi hidrat selama re-startup
sistem. Pada pipa bawah laut, setelah shutdown dalam waktu yang cukup
lama, fluida dalam pipa menjadi dingin (mendekati temperatur air laut). Jika
dilakukan re-startup dengan fluida dingin di dalamnya, risiko hidrat
sangat tinggi. Untuk mengurangi risiko hidrat, hot oil disirkulasikan
melalui pipa untuk mengganti fluida dingin dan juga untuk menghangatkan pipa.
Waktu yang diperlukan untuk memanaskan pipa bergantung pada temperatur-keluar (discharge)
hot oil, laju sirkulasi hot oil, dan panjang pipa. Biasanya
diperlukan 5 hingga 10 jam untuk memanaskan pipa bawah laut.
v)
Pengurangan Tekanan (Depressurization)
Metode
pengurangan tekanan digunakan untuk mitigasi hidrat setelah shutdown
dalam waktu cukup lama. Dari kurva pembentukan hidrat, diketahui bahwa pada
temperatur tertentu, daerah nonhidrat dapat diperoleh dengan mereduksi tekanan.
Ketika tekanan sistem berada di bawah tekanan pembentukan hidrat, hidrat akan
terdisosiasi. Proses disosiasi ini berlangsung lambat. Diperlukan waktu
mingguan bahkan bulanan untuk melelehkan hidrat pada pipa yang panjang.
c.
Penanganan Wax
i) Insulasi termal
Pada pipa
bawah laut, metode mitigasi wax yang umum digunakan adalah insulasi
termal untuk menjaga temperatur fluida sepanjang pipa agar berada di atas wax
appearance temperature selama operasi. Ketika terjadi shutdown,
temperatur fluida di dalam pipa menurun seiring waktu dan akan sama dengan
temperatur air laut dalam 12 hingga 36 jam, bergantung pada
desain insulasi termal. Wax akan mengendap jika temperatur fluida
lebih rendah daripada wax appearance temperature. Kalau waktu shutdown
singkat, jumlah wax yang mengendap sedikit karena pengendapan wax
merupakan proses yang lambat. Selanjutnya endapan wax akan mencair lagi
pada saat pipa beroperasi normal kembali.
ii) Pigging
Metode
mitigasi wax lainnya yang cukup populer adalah pigging. Terdapat
beberapa tipe pig, antara lain simple sphere, foam pig, dan
smart pig. Pig diluncurkan ke perpipaan dari pig launcher,
didorong oleh minyak atau gas. Pig akan bergesekan dengan wax di
dinding pipa dan membersihkan pipa secara mekanik. Program pigging
secara terjadwal merupakan salah satu kunci kesuksesan operasi pigging.
Jika frekuensi pigging terlalu sedikit, akan banyak wax yang
mengendap pada dinding pipa.
iii) Wax Chemical Inhibitor
Wax chemical
inhibitor dibagi dua tipe. Tipe pertama adalah untuk mencegah pembentukan kristal wax, dengan demikian mereduksi wax appearance
temperature dan mencegah pengendapan wax ke dinding pipa. Tipe kedua
adalah untuk menurunkan wax pour point, dengan demikian
menunda solidifikasi wax.
d.
Penanganan
Endapan Aspal
Masalah
pengendapan aspal ditanggulangi dengan dua metode. Yang pertama adalah dengan
metode mekanik, meliputi pigging, coiled tubing, dan wireline
cutting. Yang kedua adalah dengan penggunaan pelarut kimia untuk
melarutkan endapan aspal. Chemical inhibitor digunakan untuk mencegah
pengendapan aspal pada sistem produksi, termasuk pipa dan wellbore.
Pigging dapat
digunakan untuk menyisihkan aspal di dalam manifold dan pipa. Biasanya
digunakan pig tipe disk dan cup; pig tipe sphere
dan foam tidak efisien untuk menghilangkan padatan aspal. Agar operasi pigging
berhasil, frekuensi pigging merupakan hal penting. Jika frekuensinya
rendah, akan banyak aspal yang mengendap dalam pipa. Endapan aspal yang
berlebih dapat menyebabkan pig tidak berfungsi.
Wireline cutting
dapat menghilangkan padatan aspal di dalam wellbore, sehingga wellbore
dapat mudah diakses. Sistem coiled tubing dapat digunakan untuk
menghilangkan padatan aspal di dalam wellbore dan pipa. Keterbatasan coiled
tubing adalah tidak dapat digunakan jika padatan aspal terlalu jauh dari
titik penyebaran (deployment point) coiled tubing.
Walaupun
aspal tidak larut dalam alkana, ia larut dalam pelarut aromatik, seperti
benzena. Campuran aromatik dan alkohol dapat digunakan untuk menghilangkan
padatan aspal. Sejumlah bahan kimia dapat meningkatkan tegangan permukaan crude
oil dan mencegah aspal terpresipitasi. Beberapa bahan kimia dapat menyuplai
resin dalam minyak untuk menstabilkan molekul aspal.
e. Pencegahan dan
Penanggulangan Scale
Masalah
pembentukan scale ditanggulangi dengan scale inhibitor. Bahan kimia ini
dapat mencegah pengendapan kerak, tetapi tidak dapat melarutkan endapan kerak
yang telah terbentuk. Dengan demikian fungsi utama scale inhibitor
adalah pencegahan, bukan remediasi.
Scale
inhibitor harus memenuhi syarat sebagai berikut :
· bisa mencegah pembentukan scale pada rentang
temperatur, tekanan, dan brine tertentu.
· compatible dengan air terproduksi untuk mencegah pembentukan
padatan dan/atau suspensi. Beberapa scale inhibitor bereaksi dengan ion
kalsium, magnesium, atau barium membentuk senyawa yang dapat terpresipitasi
membentuk kerak, sehingga menimbulkan masalah baru.
- compatible dengan
material valve, wellbore, dan flowline yaitu
korosivitasnya rendah.
- compatible dengan
bahan kimia lain, seperti corrosion inhibitor, wax inhibitor,
dan hydrate inhibitor, sehingga tidak ada padatan yang
terbentuk dan performansi individu tidak bertentangan. Kan (2001)
melaporkan bahwa hydrate inhibitor (metanol dan glikol) dapat
mempengaruhi kelarutan sulfat, sehingga keefektifan scale inhibitor
terpengaruh.
- memiliki kestabilan termal pada
temperatur operasi dan waktu tinggal (residence time).
- Residunya
pada air terproduksi dapat dideteksi untuk keperluan monitoring.
Scale yang
terbentuk pada fasilitas produksi dapat dihilangkan dengan cara mekanik,
seperti pigging, atau melarutkannya menggunakan bahan kimia. Ketika pig
diluncurkan ke dalam pipa, ia dapat menghilangkan endapan kerak pada dinding
pipa.
Asam dapat
bereaksi dengan kerak dan melarutkan endapan kerak pada dinding pipa. Untuk
menghilangkan kerak kalsium karbonat digunakan asam klorida. Kerak kalsium
sulfat tidak larut dalam asam klorida. Inorganic
converter, seperti amonium karbonat (NH4)2CO3),
dapat mengubah kalsium sulfat menjadi kalsium karbonat, yang selanjutnya
dilarutkan dengan asam klorida. Agar
asam tidak melarutkan dinding pipa, perlu ditambahkan corrosion inhibitor.
f. Pengontrolan Korosi
Terdapat
beberapa metode untuk mengontrol korosi pada pipa, khususnya pipa bawah laut,
yaitu penggunaan CRA (corrosion resistant alloys)
menggantikan baja karbon, pemakaian corrosion inhibitor, mengisolasi
logam dari elektrolit, dan menggunakan proteksi katodik. Satu atau lebih metode
dapat digunakan bersama.
Baja Cra
sering digunakan untuk menggantikan baja karbon untuk aplikasi yang korosif.
Baja CRA biasanya lebih mahal daripada baja karbon. Pada perpipaan bawah laut,
baja CRA digunakan untuk komponen yang sangat kritis dan high impact,
seperti tree, jumper, dan manifold. Pipa, terutama jika panjang,
biasanya terbuat dari baja karbon dan injeksi corrosion inhibitor
dilakukan secara kontinu untuk melindungi pipa.
Corrosion inhibitor merupakan bahan kimia untuk mereduksi
laju korosi logam yang terekspos ke lingkungan. Corrosion inhibitor dapat
bereaksi dengan permukaan logam, menempel pada permukaan dalam pipa, dan
melindungi pipa dari korosi. Senyawa aktif dari inhibitor membantu membentuk
lapisan film inhibitor pada permukaan logam dan mencegah air menyentuh dinding
pipa.
Agar
inhibitor terdistribusi merata ke sekeliling permukaan dalam pipa, kecepatan
alir fluida di dalam pipa mesti tinggi. Jika kecepatan alir fluida terlalu
rendah, inhibitor kemungkinan tidak mencapai bagian atas dinding pipa dan hanya
membentuk lapisan film di bagian bawah dinding pipa. Sebaliknya, jika kecepatan
fluida terlalu tinggi dan menyebabkan shear stress yang tinggi di dekat
dinding, lapisan film dapat tersisihkan dari dinding pipa.
Untuk smooth pipeline, efisiensi corrosion inhibitor dapat
mencapai 85 – 95%, tetapi menurun jika shear stress meningkat secara
drastis di lokasi-lokasi seperti fitting, valve, choke, bend, dan
weld bead. Bentuk geometri peralatan tersebut meningkatkan turbulensi.
Pada pipa gas/kondensat, penambahan hydrate inhibitor, seperti
glikol atau metanol, turut mengurangi laju korosi. Hal ini terjadi karena hydrate
inhibitor menyerap air (free water) dan menjadikan fasa air
berkurang sifat korosinya.
Plastic coating dan plastic liner dapat digunakan
sebagai lapisan pelindung untuk mengisolasi dinding pipa dari air. Tubing
dan pipa untuk injeksi air sering menggunakan plastic liner utnuk
mengontrol masalah korosi.
Sebagaimana
kita diskusikan di atas, salah satu elemen penyebab korosi adalah aliran arus.
Jika kita menghentikan aliran arus dari anoda ke katoda, korosi dapat
dihentikan. Ini merupakan prinsip dari proteksi katodik. Metode ini banyak
digunakan baik pada pipa darat maupun pipa bawah laut. Dengan menghubungkan
pipa dengan logam yang lebih korosif, pipa berperilaku sebagai katoda,
sedangkan logam yang lebih korosif tersebut berperilaku sebagai anoda. Dengan
demikian, pipa tidak terkorosi. Anoda galvanik yang digunakan pada proteksi
katodik biasanya terbuat dari aloy magnesium, seng, atau aluminium yang lebih
aktif daripada pipa baja.
V. Kesimpulan
1.
Flow assurance merupakan hal yang kritis bagi proses produksi migas dimana perpipaan
merupakan bagian besar di dalamnya. Untuk produksi migas lepas pantai yang
memiliki tingkat kesulitan, resiko dan biaya, desain Flow Assurance adalah hal
yang wajib.
2.
Flow assurance dapat dikelola dengan desain sistem yang baik, seperti heavy thermal
insulation, high grade material, dan sistem mitigasi yang canggih. Flow
assurance pun dapat dikelola selama tahap operasi berlangsung, misalnya
penggunaan chemical inhibitor, pigging, dan monitoring laju
aliran fluida. Sehingga semua potensi masalah yang mungkin dan telah terjadi
dapat ditanggulangi.
Daftar Pustaka
Brill-Beggs, Two-Phase Flow in Pipes,
Six edition, 1991.
Guo, Offshore Pipelines,
Shanhong Song, Jacob Chacko, Ali Ghalambor, Gulf Professional Publishing,
Oxford, 2005
Intecsea, Flow Assurance and
Operability, Capability and
Experience, Worley Parson Grup, 2007.
Irmann-Jacobsen, Flow Assurance – A System Perspective, FMC Subsea technologies, 2010.







